Kalimantan Timur

Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin, Masjid Bersejarah Bercorak Rumah Adat Kaltim

Bertandang ke Kutai Kartanegara, Anda bisa berwisata religi ke Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin yang terkenal memiliki corak layaknya rumah adat Kalimantan Timur.

Lokasi: Panji, Kec. Tenggarong, Kab. Kutai Kartanegara.
Map: Cek Lokasi

Termasuk salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur, Kutai Kartanegara memang memiliki berbagai macam destinasi wisatanya. Tidak hanya memiliki objek wisata alam saja, di Kutai Kartanegara pula terdapat wisata religi yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja yaitu ke Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin. Simak ulasannya berikut ini.

Mengenal Lebih Dekat Masjid Jami’ Kutai Kartanegara

Mengena Masjid Jami’ Kutai

Image Credit: Google Maps (Dodi Andi Wijaya)

Menjadi sebuah masjid bersejarah yang hingga kini masih berdiri kokoh di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, destinasi wisata ini memiliki nama Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin. Dibangun oleh Sultan Adji Muhammad Sulaiman pada tahun 1874, masjid ini termasuk ke dalam wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara yang pada awalnya merupakan sebuah mushola kecil.

Sebelum masjid ini berdiri, dulu terdapat sebuah masjid yang terletak di seberang sungai lebih tepatnya di belakang Langgar An-Nur. Konon katanya masjid tersebut merupakan masjid yang pertama kali dibangun di Tenggarong, sebelum terjadinya peperangan dengan tentara Inggris. Namun setelah terjadi peperangan, masjid tersebut hancur luluh lantak dihantam oleh tentara Inggris.

Karena kejadian tersebutlah, Sultan Adji Muhammad Sulaiman berpikir bagaimana caranya masjid yang dulu tersebut bisa dibangun lagi. Beliau pun mendiskusikan hal tersebut bersama beberapa tokoh, dan pada akhirnya mereka bersepakat untuk membangun sebuah masjid. Proses pembangunan melalui beberapa tahapan, dimana tahapan pertama dibangun oleh Sultan Adji Muhammad.

Kemudian di tahap kedua, masjid ini dibangun oleh Sultan ke 18 yaitu Sultan Alimudin pada abad ke 18 tepatnya tahun 1874. Pembangunan yang dilakukan oleh Sultan Alimudin tersebut ditandai dengan peletakkan 16 tiang kayu ulin yang ditebang di hutan Tenggarong. Pada periode kedua tersebut terjadi ketika usia masjid telah mencapai umur 60 tahun.

Sebenarnya pada tahap kedua ini bukan pembangunan dari awal lagi, melainkan perbaikan pada beberapa bagian yang terjadi kerusakan. Pada waktu itu Sultan Adji Muhammad Parikesit, cucu dari Sultan Adji Muhammad Sulaiman memerintahkan Menteri Kerajaannya yang bernama Adji Amir Hasanoeddin dengan gelar Haji Adji Pangeran Sosronegoro untuk memperbaiki masjid tersebut.

BACA JUGA:  Pulau Segajah, Pulau Unik Nan Eksotis di Kalimantan Timur

Pemugaran tersebut dilakukan pada tahun 1929 oleh Al Haji Aji Amir Hasanuddin atau gelarnya yaitu Pangeran Sosronegoro, serta Sayyid Saggaf Baraqbah atau gelarnya yaitu Aji Raden Sokmo. Dalam prosesnya, mereka tidak menghilangkan sisi historis yang dimiliki oleh masjid satu ini karena telah difungsikan dari tahun 1874 hingga 1927.

Destinasi wisata religi ini ditetapkan sebagai masjid bersejarah berdasarkan hasil kesimpulan seminar sejarah Islam di Kalimantan Timur pada bulan November 1981 di Samarinda. Pada saat itu pula disepakati nama dari masjid ini yaitu Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin, dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Kalimantan Timur Nomor WQ/2/2526 tahun 1981.

Fasilitas yang Tersedia di Masjid Adji Amir Hasanoeddin

Fasilitas di Masjid Adji Amir Hasanoeddin

Image Credit: Google Maps (Prast 013)

Di dalam masjid peninggalan Kerajaan Kutai ini terdapat berbagai macam koleksi diantaranya menara masjid, tiang guru, mimbar masjid, dan sudut mihrab masjid. Menara masjid tersebut diresmikan pada tanggal 21 November 1979 oleh Bupati Tenggarong yang menjabat pada saat itu, yaitu Drs. Awang Faisjal.

Bangunan masjid di Kutai Kartanegara ini telah dirancang permanen dengan desain rumah Adat Kalimantan Timur. Atapnya sendiri berbentuk tumpang tiga dengan puncaknya yang berupa bentuk limas segi lima. Pada setiap tingkatan dari atap tersebut ditandai dengan adanya ventilasi yang jumlahnya bervariasi, tergantung pada besar kecilnya dari ukuran tingkatan tersebut.

Karena mengandung nilai historis yang tidak bisa dilupakan begitu saja oleh umat muslim, masjid peninggalan kerajaan Kutai ini memiliki peran yang cukup besar bagi masyarakat Tenggarong dan sekitarnya. Menariknya, masjid peninggalan Kesultanan Kutai ini telah ditetapkan sebagai salah satu masjid tertua dan bersejarah yang ada di Indonesia.

Di dalam Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin terdapat enam belas tiang kayu ulin berukuran besar. Kayu ulin tersebut awalnya akan digunakan untuk adat ritual kutai, yaitu menduduskan yang merupakan pemandian putra Mahkota yaitu Adji Punggeuk. Namun sayangnya sebelum digunakan, sang putra mahkota telah meninggal dunia.

Pada akhirnya enam belas tiang yang berada di dalam masjid tersebut digunakan untuk pondasi dalam pembuatan bangunan masjid ini. Ketika peletakan batu pertama, masyarakat setempat langsung bergotong royong dalam pembuatannya tanpa diberikan upah sedikitpun dan hanya bermodalkan iman serta keikhlasan kepada Allah swt.

BACA JUGA:  Rumah Ulin Arya, Destinasi Wisata Keluarga Populer di Samarinda

Konon katanya tiang masjid tersebut didirikan pada waktu subuh sesuai dengan kepercayaan warga Kutai. Saat proses pembangunan serta perenovasian salah satu masjid tertua di Indonesia ini tidak ada satu paku pun yang digunakan untuk merekatkan antara satu pondasi dengan lainya, melainkan menggunakan kayu itu sendiri.

Sebagian besar konstruksi bangunan Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin ini terbuat dari kayu ulin yang didatangkan dari tanah hulu Tenggarong. Secara fisik bangunan bersejarah di Kutai ini tidak mengalami perubahan signifikan sama sekali sejak pertama kali didirikan, bahkan jika terdapat pemugaran karena kerusakan kecil maka pihak masjid tidak akan mengubah konstruksi bangunan aslinya.

Fasilitas Masjid Adji Amir Hasanoeddin

Image Credit: Kompasiana.com

Pada pembangunannya dulu, lantai keramik di masjid peninggalan Kesultanan Kutai ini hanya direkatkan dengan pasir saja tanpa semen seperti umumnya konstruksi masjid pada zaman sekarang. Warna cat bangunan masjid peninggalan Kerajaan Kutai ini didominasi oleh warna putih, kuning, dan hijau.

Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin pula memiliki sembilan belas pintu yang mengelilingi bangunannya dengan tinggi hingga 2,5 meter. Adanya berbagai pintu tersebut digunakan untuk memudahkan para jamaah memasuki masjid. Tak hanya untuk memudahkan saja, kehadiran pintu tersebut pula mampu membuat suasana di dalam masjid menjadi lebih sejuk.

Karena udara dari luar ruangan bisa masuk dengan bebas ke dalam masjid. Hal tersebut tentu saja membuat para jamaah nyaman dan betah berlama lama di dalam masjid. Bangunan bersejarah ini pula dilengkapi dengan adanya tambahan lantai keramik dengan penutup kanopi di pelatarannya, agar dapat menampung para jamaah yang membludak saat salat Jumat dan tarawih di Bulan Ramadhan.

Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin ini memiliki luas area bangunan hingga 50 x 50 meter dengan daya tampung seribu jamaah. Namun pada saat bulan Ramadhan tiba, jumlah jamaah yang datang ke masjid ini bisa membludak. Para jamaah yang tidak bisa memasuki masjid karena penuh, tidak perlu khawatir karena pengelola masjid telah menyediakan tempat di halaman masjid.

Objek wisata religi ini pula dilengkapi dengan gedung perpustakaan yang terletak di belakang masjid, yang memiliki koleksi buku sebanyak 3.000 eksemplar. Bangunan perpustakaan tersebut dibangunan oleh HR Syaukani, mantan Bupati Kutai Kartanegara. Dengan adanya perpustakaan tersebut, membantu para jamaah masjid untuk mengisi waktunya dengan membaca buku keislaman.

BACA JUGA:  Taman Kota Raja Tenggarong, Taman Favorit untuk Bersantai

Meski tidak dihiasi oleh beragam ukiran yang menarik layaknya masjid pada umumnya, tetapi terdapat berbagai ornamen sederhana yang mampu membuat masjid tampak lebih menawan dan berbeda dibandingkan masjid lainnya. Ketika memasuki masjid, Anda akan menemukan suasana yang sangat menyejukkan hati, apalagi segala ornamennya didominasi oleh cat berwarna putih.

Semua ornamen yang terdapat di masjid peninggalan Kerajaan Kutai tersebut terbuat dari kayu ulin. Kemudian fasilitas lainnya yang dimiliki oleh Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin yaitu bedug. Hal yang menarik dari bedug tersebut ialah terbuat dari satu pohon utuh berukuran besar. Bisa dibilang bedug tersebut telah ada sejak awal berdirinya masjid bersejarah satu ini.

Selama bulan Ramadhan, masjid tertua di Kutai ini memiliki agenda rutinan seperti membagikan takjil, tarawih dirangkai kultum, tadarus, kuliah subuh serta kuliah dzuhur yang diisi oleh para penceramah dari Tenggarong. Tak hanya selama bulan Ramadhan saja, di saat bulan seperti biasanya pula takmir masjid selalu meramaikan dengan berbagai agenda rutinan lainnya.

Alamat & Rute Perjalanan Menuju Masjid Adji Amir Hasanoeddin

Alamat Masjid Adji Amir Hasanoeddin

Image Credit: Heikaku.com

Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin ini berada di tengah tengah Kecamatan Tenggarong, lebih tepatnya di Jalan Panji Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Letak masjid bersejarah ini berada di kawasan Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, serta berada di belakang Museum Mulawarman.

Karena terletak di tengah tengah kota, untuk bisa menuju destinasi wisata religi ini bisa ditempuh menggunakan kendaraan pribadi, baik itu kendaraan roda dua maupun roda empat. Bahkan Anda pula bisa menjangkau bangunan bersejarah ini menggunakan angkutan umum yang ada di Tenggarong. Di salah satu sisi masjid, para jamaah akan melihat masjid lagi yang bernama Masjid Agung Tenggarong.

Apabila ditilik dari Bandar Udara Internasional Aji Pangeran Kutai Kartanegara, maka jarak tempuhnya yaitu 54,7 kilometer dengan waktu perjalanannya sekitar 1 jam 28 menit menggunakan kendaraan roda empat. Destinasi wisata religi ini pula berada dekat dengan aliran Sungai Mahakam yang berada di Kutai Kartanegara.

Mengingat lokasi Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin sangat strategis, sehingga beragam destinasi wisata lainnya yang disuguhkan oleh Kutai Kartanegara. Menariknya, masjid satu ini dikenal sebagai bukti sejarah masuknya agama Islam di tanah Kutai Kartanegara. Selain memiliki akses jalan yang sangat mudah ditempuh, masjid ini pula memiliki ciri khas yang sangat unik dan patut untuk dikunjungi.